Rumah Adat Tongkonan Toraja

Sabtu, 11/05/2019 00:41

By : Martin Garrox | Consumer

Gaya

Tongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan berasal dari kata tongkon (artinya duduk bersama-sama).


Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (stara sosial Masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut "alang". Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (banga) saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari (disebut pa'bare' allo), yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
 
Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu Lembangna) yang dikenal dengan istilah Ma'duangtondok terdapat tongkonan yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan A'pa' (empat rumah tongkonan) yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar.
 
Ciri khas tersebut yang harus kamu ketahui dari rumah adat tongkonan adalah sebagai berikut:
 
1. Struktur Rumah Adat Tongkonan
Struktur Rumah adat tongkonan ini memiliki filosofi tersendiri di setiap tingkatannya. Terdapat tiga lapisan segi empat yang menggambarkan kehidupan manusia yakni kelahiran, Kehidupan, Pemujaan dan Kematian.
 
Lapisan ini menggambarkan hubungan yang selaras antara makhluk mikrokosmos dan makrokosmos. Setiap tongkonan menghadap ke utara sebagai simbol awal kehidupan. Segi empat sendiri melambangkan 4 penjuru Mata Angin.
 
2. Memiliki 3 tingkatan di dalam Rumah Tongkonan
Tingkatan yang pertama disebut dengan Bagian Atas(Rattiang Banua), Tempat ini dikhususkan untuk menyimpan benda pusaka yang dianggap sakral oleh penduduk. Atap dari tongkonan ini kemudian di susun dengan menggunakan bambu pilihan dan di ikat dengan rotan dan ijuk. Maka tak heran atap rumah ini bisa bertahan sampai ratusan tahun sebab menggunakan bahan- bahan pilihan, kecuali terkena bencana Alam. Ruang Tengah ditempatkan sebagai ruang keluarga untuk tempat tidur anak-anak. Selain itu digunakan sebagai tempat sesaji dan terkadang juga digunakan untuk menyemayamkan mayat leluhur.
 
3. Ukiran Dinding Yang Khas
Dinding rumah adat tongkonan dibuat dari tanah liat. Ukiran pada dinding tongkonan biasanya memiliki warna yang berbeda di keempat sisinya. Keempat warna dasar tersebut adalah Merah, Kuning, Putih dan Hitam.
 
Warna merah melambangkan kehidupan manusia, warna kuning melambangkan kekuatan adiduniawi atau Sang Pencipta, Warna putih melambangkan kesucian sedangkan warna hitam melambangkan Kematian atau duka. Keempat fase tersebut mempengaruhi kehidupan manusia.
 
Arah Mata angin merupakan suatu kesakralan bagi masyarakat Toraja, Arah utara melambangkan awal kehidupan, Arah Utara atau Ulunna Langi melambangkan kekuatan Tuhan, Arah Timur atau Matta Allo melambangkan sumber energi awal kehidupan dimulai.
 
Sedangkan Matampu atau Barat adalah Lawan kehidupan Kesusahan dan Kematian. Yang terkahir adalah arah Selatan yang disebut Pollo’na Langi atau Pantat langit yang berarti tempat tinggal roh kejahatan.
 
4. Tanduk Kerbau
Kerbau merupakan binatang yang khas, unik dan memiliki nilai yang tinggi bagi Masyarakat Toraja. Bagi Masyarakat Toraja Tanduk Kerbau merupakan simbol strata sosial, Tanduk kerbau biasanya diletakkan di depan.
 
Semakin banyak tanduk kerbau yang di miliki semakin tinggi strata sosial yang dimiliki oleh pemilik tongkonan tersebut. Adat pernikahan Toraja juga menggunakan kerbau sebagai mas kawin semakin banyak kerbau yang dibawa semakin tinggi strata yang akan dimiliki pasangan tersebut.
 
5. Rumah Tongkonan Multifungsi
Sebuah Rumah Adat tongkonan dapat diisi oleh beberapa keluarga hingga empat puluh orang, dan biasanya mereka memiliki hubungan darah. Yang lebih menarik lagi rumah adat ini juga merupakan aset adat yang bernilai fantastis lebih dari 500 juta rupiah.
 
Rumah adat tongkonan dianggap sebagai ibu, sedangkan lumbung padi atau alang sura dianggap sebagai ayah. Posisi dari Alang dan Tongkonan pun saling berhadapan sebagai simbol dari Suami Istri.
 
 
 

Comment (s)

Fajar Bonz34

Selasa, 21/05/2019 10:57

foto nya kok ga keluar bang? aseli toraja bang?